Eka Kusuma dan Cathy Sharon Melangsungkan pernikahannya di Pulau Bali. Acara pernikahan yang di gelar memang diadakan tidak semewah artis-artis kebanyakan, karena Eka Kusuma dan Cathy menghendaki pesta hanya untuk keluarga, teman dan kerabat dekat saja.
Eka Kusuma Cathy Sharon Menikah
Eka Kusuma Putra dan Cathy Sharon sangat rapat menyimpan rahasia hubungan asmara selama ini, hal ini terbukti jarang sekali ada infotaiment yang mengorek isi hati Eka Kusuma Cathy Sharon, hanya ada sekali waktu pernah juga terlintas berita kedekatannya dengan Ridho Roma, entah itu cuman gosip murahan karena pernah kelihatan bersama atau emang sungguhan tak ada kelanjutannya hingga hari ini.
Dua tahun lamanya berpacaran dengan Eka yang bekerja di bidang marketing 6,5 tahun lebih tua dari Cathy cukup sudah untuk melabuhkan Cinta Chaty pada Sang pujaan hati. Hal itu dapat dilakukan karena mereka sudah mengantongi izin menikah yang kabarnya dicatatkan di suku dinas Kependudukan dan Catatan Sipil dan Gereja St Franciskus Xaverius, Kartika Plaza, Kuta, Bali pada tanggal 14 April 2012.
“Eka itu karyawan swasta di bidang marketing. Ia juga tidak bisa hadir, karena orangnya sangat pemalu dan dia tidak mau diekspose. Emang dalam pekerjaan dia, adanya ekspose tidak menguntungkan,” kata Cathy sharon tentang Eka Kusuma kepada sejumlah media di jakarta.
Cathy mengaku pertama kali mengenal Eka kusuma putra pada pertengahan 2010. Enam bulan setelah pacaran, Eka langsung menyatakan keinginannya untuk menikah. Pada April 2011, Eka kusuma dan keluarga melamar Cathy di Bali.
“Pas dia bilang mau ngelamar, saya langsung bilang iya. Karena saya tahu ia serius. Tak ada masalah perbedaan umur. Saya memang membutuhkan orang yg lebih dewasa. Membutuhkan orang yang hidup lebih normal,” tambah cathy sambil tersenyum lebar.
Selamat kepada artis cantik kita tercinta, semoga pernikahan kalian selalu membawa berkah, dan sekali lagi tanggal 14 April 2012 adalah moment terpenting bagi Eka Kusuma Cathy Sharon
Pernikahan adat bali sangat diwarnai dengan pengagungan kepada Tuhan sang pencipta, semua tahapan pernikahan dilakukan di rumah mempelai pria, karena masyarakat Bali memberlakukan sistem patriarki, sehingga dalam pelaksanan upacara perkawinan semua biaya yang dikeluarkan untuk hajatan tersebut menjadi tanggung jawab pihak keluarga laki – laki. hal ini berbeda dengan adat pernikahan jawa yang semua proses pernikahannya dilakukan di rumah mempelai wanita. Pengantin wanita akan diantarkan kembali pulang ke rumahnya untuk meminta izin kepada orang tua agar bisa tinggal bersama suami beberapa hari setelah upacara pernikahan.
Acara ini bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin wanita dari kehidupan remaja menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga memohon doa restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bersedia menurunkan kebahagiaan kepada pasangan ini serta nantinya mereka diberikan anugerah berupa keturunan yang baik.
Setelah itu pada sore harinya, seluruh tubuh calon pengantin wanita diberi luluran yang terbuat dari daun merak, kunyit, bunga kenanga, dan beras yang telah dihaluskan. Dipekarangan rumah juga disediakan wadah berisi air bunga untuk keperluan mandi calon pengantin. Selain itu air merang pun tersedia untuk keramas.
Sesudah acara mandi dan keramas selesai, pernikahan adat bali akan dilanjutkan dengan upacara di dalam kamar pengantin. Sebelumnya dalam kamar itu telah disediakan sesajen. Setelah masuk dalam kamar biasanya calon pengantin wanita tidak diperbolehkan lagi keluar dari kamar sampai calon suaminya datang menjemput. Pada saat acara penjemputan dilakukan, pengantin wanita seluruh tubuhnya mulai dari ujung kaki sampai kepalanya akan ditutupi dengan selembar kain kuning tipis. Hal ini sebagai perlambang bahwa pengantin wanita telah bersedia mengubur masa lalunya sebagai remaja dan kini telah siap menjalani kehidupan baru bersama pasangan hidupnya.
Mungkah Lawang ( Buka Pintu )
Seorang utusan Mungkah Lawang bertugas mengetuk pintu kamar tempat pengantin wanita berada sebanyak tiga kali sambil diiringi oleh seorang Malat yang menyanyikan tembang Bali. Isi tembang tersebut adalah pesan yang mengatakan jika pengantin pria telah datang menjemput pengantin wanita dan memohon agar segera dibukakan pintu.
Upacara Mesegehagung
Sesampainya kedua pengantin di pekarangan rumah pengantin pria, keduanya turun dari tandu untuk bersiap melakukan upacara Mesegehagung yang tak lain bermakna sebagai ungkapan selamat datang kepada pengantin wanita. kemudian keduanya ditandu lagi menuju kamar pengantin. Ibu dari pengantin pria akan memasuki kamar tersebut dan mengatakan kepada pengantin wanita bahwa kain kuning yang menutupi tubuhnya akan segera dibuka untuk ditukarkan dengan uang kepeng satakan yang ditusuk dengan tali benang Bali dan biasanya berjumlah dua ratus kepeng
Madengen–dengen
Upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri atau mensucikan kedua pengantin dari energi negatif dalam diri keduanya. Upacara dipimpin oleh seorang pemangku adat atau Balian
Mewidhi Widana
Dengan memakai baju kebesaran pengantin, mereka melaksanakan upacara Mewidhi Widana yang dipimpin oleh seorang Sulingguh atau Ida Peranda. Acara ini merupakan penyempurnaan pernikahan adat bali untuk meningkatkan pembersihan diri pengantin yang telah dilakukan pada acara – acara sebelumnya. Selanjutnya, keduanya menuju merajan yaitu tempat pemujaan untuk berdoa mohon izin dan restu Yang Kuasa. Acara ini dipimpin oleh seorang pemangku merajan
Mejauman Ngabe Tipat Bantal
Beberapa hari setelah pengantin resmi menjadi pasangan suami istri, maka pada hari yang telah disepakati kedua belah keluarga akan ikut mengantarkan kedua pengantin pulang ke rumah orang tua pengantin wanita untuk melakukan upacara Mejamuan. Acara ini dilakukan untuk memohon pamit kepada kedua orang tua serta sanak keluarga pengantin wanita, terutama kepada para leluhur, bahwa mulai saat itu pengantin wanita telah sah menjadi bagian dalam keluarga besar suaminya. Untuk upacara pamitan ini keluarga pengantin pria akan membawa sejumlah barang bawaan yang berisi berbagai panganan kue khas Bali seperti kue bantal, apem, alem, cerorot, kuskus, nagasari, kekupa, beras, gula, kopi, the, sirih pinang, bermacam buah–buahan serta lauk pauk khas bali.